Bandung, 05 November 2012
Membentangkan Kaki Langit dari Jogja
ke Batam hingga ke Pekan Baru menjadi pengalaman indah dalam hidupku. Bukan
pekerjaan mudah, namun juga bukan pekerjaan sulit. Yang lebih sulit justru
membayangkan betapa semua berjalan begitu cepat. Cepat tumbuh dan cepat layu,
atau mungkin orang bilang sudah mati. Tak ada yang perlu di sesali, justru rasa
syukurlah yang semestinya aku resapi.
Pengalaman kemudian mengajari aku
tentang arti sebuah kesuksesan, bahwa ianya tidaklah bisa di raih dengan
sekejab mata. Dulu aku sangat tidak bisa untuk memahami sebuah kata bijak “mempertahankan
itu jauh lebih susah dari pada membangun”. Kini ku rasakan begitu pahitnya kata
bijak itu jika harus di pahami dengan sebuah pengalaman.
Semua sudah terjadi dan semua
telah terlewati, Kaki Langit-ku yang dulu membumbungkan mimpiku dan masa
depanku kini tinggal kenangan. Malu aku ketika harus menerima kenyataan ini,
kebanggaanku dulu bersama kaki langit telah sirna. Mungkin ia bukanlah
perusahaan besar yang bisa mempengaruhi stabilitas ekonomi ketika telah tiada. Juga
tidak akan ada yang menangisi ketika tidak lagi bersuara. Namun karena ia besar
dari tangan lemahku, dan tumbuh dari siraman keringatku bahkan ada kalanya
harus dipupuk dengan tetesan darahku, maka kaki langit begitu berarti bagiku. Kalau
boleh jujur, aku masih menyimpan mimpi bahwa suatu saat nanti kaki langit akan
kembali berdiri tegak dimana ia pernah merasakan hal yang sama bahkan lebih
dari itu.
Kehilangan kaki langit sempat
membuatku frustasi, ditandai dengan sariawan tiada henti. Maka disaat-saat
tersulit itu aku kembali membuka lembaran-lembaran sejarah bagaimana aku bisa
mengembangkan kaki langit. Dengan tertatih aku coba meraba masa depan dengan
berbagai cara, sedikit terpeleset saja sudah membuatku sakit karena memang
tubuhku sedang sakit. Sebuah kata bijak menyadarkanku, “hampir semua orang
sukses pasti pernah gagal, jika saat ini anda gagal maka sebentar lagi anda
akan sukses”.
Ku kumpulkan semua serpihan
semangatku yang baerserakan dan hampir saja terbuang ke sebuah perusahaan dimana
aku sempat melayangkan surat lamaran kerja. 5 kali panggilan test dan wawancara
yang sangat sulit aku pahami hanya untuk sebuah pekerjaan dengan gaji umk tanpa
tunjangan. Baru dikemudiaan hari aku menyadari, bahwa Allah telah memiliki
rencana yang jauh lebih indah dari sekedar pengalaman kerja yang belum pernah
aku rasakan sama sekali semenjak lulus kuliah. Kejutan itu datang, rizki tak
terduga itu membuat hatiku begitu girang. Hampir tidak mungkin itu terjadi,
namun ketika Allah berkehendak tak ada makhluk yang bisa menghalangi.
Membangun pondasi D’Yummy
catering dari trotoar depan kampus UIN Bandung memang sempat menyesakkan
dadaku. Terik matahari yang tak bisa aku hindari disetiap hari juga telah
menghanguskan kulitku. Belum lagi pengorbanan tanpa tidur hanya untuk 80 potong
risoles adalah ujian lain yang harus aku lalui bersama istri tercinta di pondok
mertua Indah. Kini semua telah aku lalui, dengan web promo
www.bandungcatering.com kini aku bisa
nikmati sebulan gaji setara dengan setahun gaji andai aku diterima diperusahaan
kabel ketika itu.
Ya Allah… Segala puji hanya
untuk-Mu ya Allah. Engkaulah pemilik dunia, Engkaulah pemberi rizki. Dan hanya
kepada-Mu lah ya Allah hamba memohon. Atas kuasamu ya Allah, hamba mohon
menangkanlah tender catering hamba di SD Al-Biruni. La Haula Wala Kuwwata illa
billah…